|
Perlahan aku memijak pedal gas lebih dalam lagi. Dua angka digital petunjuk kecepatan pun dengan gegas berganti menjadi tiga digit. Mataku nyalang menelusuri garis jalan tol bandara yang begitu lengang. Mobil hybrid ini sesekali meliuk di antara kendaraan lain yang berjarak tak sepadan. Sejak tadi aku telah mematikan pendingin udara dan tata suara. Hanya ada deru roda yang bergesekan dengan aspal jalan dan desau angin yang bertumbukan dengan bentuk aerodinamis kendaraan. Aku mengangkat sedikit kaki dari pedal gas ketika kecepatan mobil mulai bertingkah seolah pesawat yang akan lepas landas. Hmm, betapa menyenangkan dan nikmatnya berkendara di jalanan Jakarta yang seperti ini, batinku. Terlebih ketika berhasil melewati pola pengendara-pengendara mobil yang kerap menghimpun kumpulan dan mencipta jarak dengan kumpulan lain di depannya. Sering kudapati hal seperti inilah yang membuat kemacetan menjadi tampak begitu panjang. Desau angin menyusup dari sela jendela yang baru saja sedikit kubuka. Terhirup kesegaran dan kelegaan setelah sekian waktu nafasku sesak terkurung dalam kendaraan. Jendela kubuka sedikit lebih lebar lagi. Aku pun menarik nafas panjang dan lalu melepaskannya perlahan. Setidaknya rasa sesak itu perlahan pupus menghilang. Rasa sesak itu perlahan pupus menghilang.. aku mengulangi kalimat itu dalam batin. Hei, mengapa sepertinya aku tengah tersadar pada satu pencerahan? Ya, aku coba untuk menganalogikan rasa sesak yang tercipta itu sebagai beragam perasaan di hati yang bertumpuk-tumpuk dan tak terkendali, seperti perasaan iri, dengki, dendam, benci, atau bahkan rasa kecewa yang membuat kita tak mampu memaafkan sebuah kesalahan! Aku tertegun. Barangkali selama aku belum pernah bisa membuang perasaan-perasaan yang kerap membuat hatiku begitu sesak, aku tak akan pernah menemukan ruang di hati yang sesungguhnya begitu lebar dan begitu luas. Ruang yang sebenarnya memberi kelegaan tak berbatas. Ya, sebab misalnya saja aku tidak bisa memaafkan kesalahan seseorang, maka sampai kapanpun rasa dendam itu masih ada dan menyita ruang kelegaan yang ada. Aku percaya bahwa bila ruang kelegaan itu mulai terasa luas, rasanya seperti baru saja terbebas dari kemacetan jalan, terbebas dari antrian panjang, terbebas dari himpitan beban! Kecepatan mobil kukurangi saat kulihat papan berwarna hijau menunjukkan arah keluar jalan tol menuju Mampang. Di jalan non-tol mulai padat dan ramai dengan mobil dan sepeda motor. Beberapa petugas polisi dengan sigap menata kondisi lalu lintas agar tetap dalam aturan. Sayup-sayup kudengar gema takbir menyambut hari kemenangan, hari yang fitri, hari dimana kita sebaiknya dengan penuh ketulusan membuka lebar pintu untuk memaafkan, hingga jelaga kesalahan serta kelalaian terbasuh dan terampunkan. Dari jendela aku menatap langit malam yang bertabur gemintang bintang. Barangkali ruang hatiku tidak selega langit luas. Tapi bila aku mulai belajar memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain, baik disengaja ataupun lantaran kelalaian, ruang itu akan terasa lega dan seluas langit yang kulihat di atas. Setidaknya, bagi aku. Untuk karibku, pembaca setia blog ini : "mohon maaf, lahir dan bathin.." |
| Iwang Jr. October 3, 2008 01:02 AM PDT dapat endorsement toyota prius lg ya mas?? hhehe | ||
| enno October 7, 2008 07:24 PM PDT sama-sama,mohon maaf lahir batin ya mas yuris :) nice posting setelah sekian lama menunggu, fyuh! | ||
| jeppe October 11, 2008 05:59 PM PDT tulisan yang melegakan. selega mendengar kabar Kla utuh lagi... Maaf lahir bathin, Mas Yuris! | ||
| hakimhakim.com October 30, 2008 09:29 PM PDT kata-kata yang indah, kapan ya sy bisa kayak gitu? Salam kenal nih. | ||
| tuteh November 1, 2008 03:50 PM PDT :D Selamat ya, Mas Yuris akhirnya melepas juga ... :D | ||
| Ima January 12, 2009 05:03 PM PST update...update...update donkk.. :) | ||
| hilma January 24, 2009 03:18 PM PST cool..!! :) salam kenal ya mas! | ||
| Lilis January 30, 2009 09:52 AM PST masih ingat akukah? Bantul projo tamansari. ah, Yuris, semakin berjaya aja kau. | ||
| ranie October 19, 2009 10:09 PM PDT "...Barangkali ruang hatiku tidak selega langit luas..." memaafkan sama sulitnya dengan meminta maaf.... nice post.... | ||
| Leave a Comment: |