Komentar Karib Tusuk Gigi
Celoteh Benak : MEMBINGKAI KEINDAHAN..
Wednesday, June 25, 2008



Aku terpana pada keindahan senja yang ada dan mencoba menikmatinya. Menikmati mentari yang perlahan mengecil dikunyah garis cakrawala. Gumpalan mega seperti terkoyak saat kepak camar menyusup di selanya. Wajahku menengadah, meresapi hembus angin yang memporandakan anak rambut di dahi. Di kejauhan, buih ombak menghapus jejak sepasang muda-mudi yang tengah melintasi bibir pantai.

 

Lambat laun langit meredup. Tanganku menggenggam kamera yang tegak bersandar pada tripod. Satu tekanan jemari telunjuk membingkai apa yang ada. Sekian detik kemudian, di layar kecil kamera terlihat jelas. Semburat bias jingga menjadi latar belakang sepasang muda-mudi tadi, menghadirkan siluet mereka yang tengah berpagutan.

Aku tersenyum kecil. Tidak cukup gagal untuk seorang pemula, meski aku masih harus banyak belajar pada rekan-rekan pemotret yang kukenal di komunitas fotografi. Itulah mengapa di komunitas itu kuperkenalkan diri sebagai : seorang blogger yang tengah belajar menjadi fotografer.  

Sejenak aku seperti tersadar akan sesuatu. Begitu mudahkah membingkai keindahan di dalam lingkar lensa? Lebih mudah mana dibandingkan membingkai keindahan dalam untaian kata? Aku terhenyak. Belum pernah aku berpikir untuk mempertanyakan itu, atau bahkan membandingkan kedua pertanyaan itu. Di benak malah terbayang saat masa kuliah yang membahas tentang keindahan dalam konsep filsafati, berbincang secara mendasar mengenai pengalaman estetis. Oh tidak, hentikan itu! batinku.

 

Tunggu dulu, lagi-lagi aku tersadar. Seperti halnya pelukis yang membingkai keindahan dalam kanvasnya, bisa jadi begitu pula seorang pemotret membungkus keindahan dengan tombol rananya. Demikian pula halnya dengan penyair dan penulis lirik lagu ketika berbincang mengenai keindahan. Kesemuanya mungkin saja sama tujuannya, menyimpan keindahan yang ada dan lalu menuangkan kembali sebagai sebuah karya. Hingga beragam gambar ataupun beruntai kata yang tercipta, namun sepertinya semua terkemas ke dalam satu makna : indah. Ya, hanya pada satu kata : indah.

 

Aku kembali menengadah, menatap cakrawala malam. Bulan baru saja menggantikan mentari yang pergi tenggelam. Gemintang bintang tersebar mengisi kekosongan ruang di langit kelam. Kerlip lelampuan kapal dan mercusuar di kejauhan seperti kunang-kunang di gelap temaram. Bagiku ini indah.

Kembali aku tersadar, sedikit atau banyak kata berbaris, sedikit atau banyak kalimat tertulis mencoba ungkapkan keindahan ini, tetap saja terkemas dalam satu kata : indah.

 

Hei, lebih indah mana suasana pantai di sore tadi atau malam ini? batinku. Aku terpana pada pertanyaanku sendiri. Bagaimana mungkin secara obyektif dapat kubandingkan keindahan yang kualami dengan masa waktu yang berbeda serta rasa menikmati keindahan yang berbeda pula?

 

Ponselku berdering sesaat menandakan masuknya sebuah pesan singkat.

"Hai.. besok aku off. Kita dinner yuk? Di tempat yg dulu itu. Yg kamu blg bisa lihat jakarta yang indah di malam hari :) Mau khan?"

Jemariku menari di atas tombol ponsel. Dengan gegas menjawab pesan singkat itu. Ada rasa paling indah di hati yang dengan gegas merambah, membuatku tersenyum sumringah. Rasa rindu berkepanjangan seolah akan terlunasi sudah. Kesibukanku pada pekerjaan yang kerap membuatku terbuai dan pekerjaannya di salah satu maskapai, membuat kebersamaan kami jarang sekali tergapai.

 

Batinku menggumam. Esok pagi aku harus lekas kembali ke Jakarta. Akan kuresapi malam yang indah dengan seseorang yang.. tiba-tiba aku terperangah. Aku layak mengaku kalah.

Barangkali dialah keindahan dimana aku tidak pernah akan mampu untuk merangkumnya ke dalam satu kata. Atau bahkan : seribu kata.

 

 

untuk seorang bidadari

yang membuatku percaya

lengkung pelangi terjadi

karena ulahnya

: kerap bergayut di salah satu ujungnya

   9 komentar

Donny Verdian
June 25, 2008   01:35 PM PDT
 
Yo wes Mas... gek cepetan dilamar hehehe :)
Kutunggu undangannya...

Eh btw, Sang Pedendang kalau diminta nyanyi satu lagu dengan model MinusOne aja dan posisi di Jakarta, mesti bayar brapa ya ?

Kebetulan saya dan Istri saya sangat suka Menjemput Impian dan itu bisa dibilang theme song kami.

Boleh tahu? Barangkali kami bisa pertimbangkan untuk resepsi pernikahan kami :)
mimi
June 25, 2008   08:55 PM PDT
 
wwwaawww....mas tugi romantis abis :)
yg suka baca tulisanmu
June 26, 2008   12:33 PM PDT
 
pramugari mana tuh yang beruntung dapatkan kamu? kenalin donng ....

romantic posting gi.....
ayu
June 26, 2008   09:09 PM PDT
 
cie.cie.cie.
critanya ituu..! !
romantiss..! !
kisahh pribadi yahh?.
hhe
warhana sumirta
June 28, 2008   01:36 PM PDT
 
ehm.. membingkai keindahan.. dalem bro.. "belokannya" juga boleh nih.. salut.. salut.. kapan bro membingkai keindahan bereng, tapi yang pake tombol rana dulu ya.. he he he..
Hanny
July 1, 2008   10:43 AM PDT
 
Duh nakalnya fotoin orang yang lagi kasmaran :P

Anyway, romantis banget sih mas.. sekali disms, langsung pulang ke jakarta..

How lucky she is ;)
Eko "Zoel"
July 2, 2008   02:08 PM PDT
 
Wezzz..... selera lo udh berubah yee? dulu backing vokal, skarang pramugari.... dahsyat man! hehehe
fath
July 8, 2008   12:39 PM PDT
 
Wah Senja Memang Sering Membuat orang Terpana Meski Orang Seringkali Terjebak Akan teka teki dari senja...Ketidakpastian dan satu misteri..hehehe
meiy
July 10, 2008   03:32 PM PDT
 
romantis eksotis :)
keindahan di hati

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments