|
|
Sunday, April 20, 2008
JARUM JAM YANG TERHENTI..
Aku terpana dengan setengah mulut ternganga. Kalau saja arlojiku tidak mati sejak pagi tadi, barangkali aku belum tentu menyadari bahwa jam dinding kamarku sebenarnya sudah lama mati. Ya, sudah lama sekali. Sebulan? Rasanya tidak. Setengah tahun? Aku mengernyitkan kening. Tidak, bisa jadi lebih dari itu.
Mataku tegak memandang pada jam dinding yang bisu terpajang. Ia terpampang di sisi dinding yang sejajar dengan pintu kamar. Kedua jarum membentuk sudut tumpul, menunjukkan pukul 10.10. Konon, seperti umumnya sebuah iklan arloji, hal itu sengaja dilakukan agar merek arloji tersebut jelas terlihat. Tapi, aku tahu bukan aku yang sengaja mengatur sudut jam itu. Bukan aku yang sengaja menghentikannya tepat pada waktu tersebut. Dan, ya, bukan aku pula yang sengaja membiarkannya terhenti dan lantas mati seperti pada saat ini.
Lantas kalau begitu dengan apa biasanya aku menebak waktu? Kusapu pandangan di meja kamar. Ada jam meja. Ada ponsel. Ada layar komputer. Ada arloji. Ya, semuanya menjadi andalanku untuk tahu waktu. Barangkali, lantaran itulah aku tidak pernah memperhatikan atau bahkan memperdulikan jam dinding itu. Hingga ia akhirnya perlahan terhenti dan lalu mati.
Entah mengapa, tiba-tiba saja aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari jam dinding berwarna biru keperakan itu. Aku tertegun seiring pikiranku yang begitu saja melayang terayun. Jarum jam dinding yang terhenti seperti menjadi cermin diri. Denyut rutinitas hidup keseharian yang terus berdetak, membuatku terlupa ada hal-hal tertentu dalam hidup yang sebenarnya harus terus bergerak.
Barangkali, seperti itu pula aku menjalani hidup. Mungkin pernah sesuatu yang sebenarnya harus tetap bergerak dalam perjalanan hidupku, namun malah kubiarkan terhenti dan lalu mati. Jam dinding yang mati itu kuibaratkan seperti harapan, angan, cita-cita, impian, keinginan, atau bahkan obsesi dalam hidup yang tak sempat terwujud. Namun ketika aku tak begitu ambil peduli, perlahan kesemua itu terhenti dan lalu mati.
Aku terdiam, menghela nafas panjang. Betapa celoteh benakku tentang jarum jam ini seolah falsafah ringan yang menyadari dan harus kulakoni. Dalam hidup dan kehidupanku.
Perlahan aku berjingkat di atas kursi, menggapai jam dinding tadi.
Mengganti baterainya agar ia kembali berdetak.
Agar ia kembali bergerak.
Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 11:25:13 pm
~
Wednesday, February 06, 2008
Kelopak mataku perlahan mengatup. Terpejam. Menihilkan segala yang tadinya jelas terlihat dalam pandang. Segala sesuatu yang semula benderang kini memudar, berganti gelap menyergap. Lalu tidak hanya itu, perlahan aku juga mencoba meniadakan apa yang tadinya ada di sekitar. Yang kurasa, kuhirup, kuraba, bahkan kudengar. Kini hanya ada aku, diriku, pikiranku dan guliran pasir waktu. Barangkali inilah kesunyian paling sunyi yang pernah kualami. Ya, hanya aku sendiri. Sekali lagi, hanya aku sendiri.
Batinku bergumam. Hmm, sepertinya betapa bebas dalam kesendirian ini. Melepas pijak dari jerat gravitasi, ringan melayang dalam buana imajinasi. Harum rerumputan dan tanah basah sisa gerimis membasuh pagi. Bias garis lengkung pelangi. Semilir angin lembut menyibak anak rambut di dahi. Kicau burung riang berdendang, menyapa bunga-bunga yang tersenyum mengembang. Aku terkesima, begitu mudahkah sesungguhnya imajinasi tercipta? Bahkan seolah mampu sejenak mengenyahkan rasa kalut yang tengah bergayut.
Tiba-tiba muncul satu pertanyaan dalam benak yang membuatku tersentak. Bila konon tak ada yang abadi di dunia sejati, bagaimana dengan dunia imajinasi? Mungkinkah keabadian ada dalam dunia imajinasi? Kini aku terpana. Baru saja cermin hidup keseharian terbias dari sana. Ya, kerap tak pernah kita sadari bahwa begitu mudahnya sebuah pertanyaan lahir hanya demi pembenaran sebuah pernyataan. Bahkan, kerapkali kita pun lupa menyadari bahwa sebuah jawaban sebenarnya tak melulu lahir dari sebuah pertanyaan.
Aku terkesiap. Sebuah pertanyaan? Ya, beberapa menit yang lalu, aku menanyakan sesuatu pada diriku. Apakah yang saat ini aku inginkan? Aku belum mampu menjawab. Aku pikir, mungkin dengan mata terpejam, akan kutemukan jawaban yang terpendam.
.....
"Hei. hei, hei! lama banget sih 'make a wish'nya??" "Woi.. jangan bengong gitu doong..!" "Lo tidur ye?... " Perlahan keriuhan yang ada mengisi bejana kesunyianku. Aku tergugah. Mataku mengerjap pada silau lilin yang tegak tertancap di lingkar kue tart berlamur cokelat. Di dunia imajinasi hanya ada aku sendiri. Tapi di dunia sejati, ternyata aku tak sendiri. Ada mereka. Sahabat-sahabat terdekat. Satu hembusan nafasku dengan gegas memadamkan nyala lilin itu. Asapnya meliuk seolah penari yang turut menyemarakkan kebahagiaanku malam ini. Jabat erat dan peluk hangat, membuatku menyadari betapa kehidupan ini terasa tak ada arti tanpa sahabat-sahabat terdekat.
"Selamat ulang tahun ya.. anyway, kali ini... mmm, pasti hari ulang tahun terindah dalam hidup kamu khan?" ujar sang Pelakon, isteri rekanku, sang Pedendang. Lalu ia melengkungkan senyumnya. Begitu manis. Hingga membuatku meringis. Ya, aku tau. Tentu sang Pelakon bukan hanya tersenyum padaku. Tapi juga pada seorang gadis di sebelahku yang tengah tertunduk tersipu.
Perlahan ia menengadah. Matanya mengerjap. Menatapku. Indah. Kini, tanpa memejam mata, sepertinya aku tau apa keinginanku..
for Katon, Ira and all my best friends, thx 4 d amazing countdown party.. and for 'D'.. a special gift on my birthday :)
Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 9:15:22 am
~
Sunday, January 27, 2008
Aku menatap lebar langit malam Jakarta. Hitam kelam. Tak ada gemintang bintang. Lelampuan jalan, rumah dan apapun yang tercakup dalam pandang, begitu menarik terlihat dari menara yang tinggi menjulang. Dadaku mengembang, mencoba mengisi rongga paru-paru dengan udara lapang.
Sejak sepuluh menit yang lalu aku memilih untuk keluar dari ruangan yang mulai padat dengan aroma alkohol dan kepulan sigaret. Sayup terdengar degup musik dengan irama nyaris konstan dari balik dinding kaca. Barangkali ini akan jadi salah satu tempat yang menarik bagiku untuk hang-out, melepas penat sembari mengunyah night life di kota Jakarta yang tak pernah mati.
Ponselku berbunyi. Pesan singkat dari seorang sahabat. "How's ur day, Gi? C'mon, jgn cuma krn dia yg gak bisa lupa masa lalu, lantas elo jd down kyk gini. Apa bedanya elo ama dia? Don't be a looser, Brotha!" Aku meringis. Haruskah aku mengiyakan satu pendapat yang menyatakan bahwa seorang sahabat sejati tak akan pernah pergi dan jauh lebih mengerti ketimbang seseorang yang kita cintai? Aku mengulum senyum. Mungkin saja itu pendapat yang sangat subyektif, batinku.
Jemariku dengan gegas memijat tombol-tombol ponsel. Aku yakin, balasan pesan singkat yang baru saja kukirimkan akan segera membuat sahabatku mengulum senyumnya.
Hmmh, sepertinya udara kian terasa segar untuk kuhirup. Aku merentangkan kedua tanganku lebar-lebar dan..
"Aduuh!" jerit seorang perempuan. Aku terperanjat. Seorang perempuan menggenggam gelas yang isinya sebagian tumpah mengenai tangannya.
"Ups.. sorry, sorry.. maaf ya," aku mencoba mengambil gelas dari tangannya.
"Hati-hati dong, mas!" suara itu cukup ketus. Bukan, bukan ia yang berbicara. Tapi seseorang di sebelahnya. Lalu sebelahnya lagi? O, temannya juga. Hmm, tiga orang perempuan.
"Iya mbak, maaf ya.. sorry, sorry banget. Saya nggak sengaja," jelasku menatap mereka.
"Nggak, nggak papa mas.. " jawab si perempuan pertama. Aku terpana. Suara yang begitu lembut.
"Makasih ya.. " sahutku. Aku menyalakan lighter memanggil waiter, mencoba mengganti orange juice miliknya yang telah kutumpahkan.
Lalu di guliran menit berikutnya, tak pernah bisa kutebak. Kami berada dalam satu meja, menikmati musik yang menghentak. Bergoyang, mengikuti irama riang.
"Kamu nggak mabuk khan?" tanyanya.
"Lantaran ini?" balasku balik bertanya sambil menunjukkan botol air mineralku.
Ia tersenyum manis. Geligi yang tersusun rapi menyempurnakan keindahan yang ada. Barangkali ia belum mengerti bahwa memang aku baru saja mabuk. Mabuk kepayang pada pesona yang ia miliki.
…
Aku terbangun ketika hari sudah beranjak siang. Langkahku gontai menuruni anak tangga. Rasa lapar menuntunku untuk menuju meja makan.
"Mau sarapan atau makan siang, mas?" sapa Isah, pembantu baruku. Mungkin ia mencoba berkelakar. Aku terperanjat, gaya sapaan pembantu sekarang sulit dibedakan. Sapaan hangat atau sok akrab? Batinku.
"Saya minta dadar telur aja. Bikin dobel ya.. ngomong-ngomong, pada kemana semua? Kok sepi?" sahutku sembari membuka lembar koran di atas meja.
"Oh.. pagi tadi sudah pergi. Katanya mau ke pemakaman," sahut Isah. Hmmh, cukup rajin rupanya Mama dan adikku menyambangi peristirahatan terakhir ayahku.
"Ya sudah, tolong dadar telurnya ya.. lho, itu tangan kanan kamu kenapa?" Aku menatap jemari tangannya yang bernoda coklat kemerahan.
"Oh.. tadi pagi, gara-gara buka kaleng sarden. Sampai berdarah-darah gitu deh mas.. Untung tadi dikasih obat. Katanya sih obat dari cina, mas.. wah, perihnya minta ampun.. tapi cuma sebentar dan langsung sembuh. Darahnya langsung berhenti.. lukanya juga menutup sendiri.. Mungkin begitu kali ya cara kerjanya, harus perih dulu untuk bisa menyembuhkan.. dah gitu saya semp…"
Aku tertegun, dan tak lagi mendengarkan dengan jelas kalimat-kalimat berikutnya. Bukan, bukan pada betapa derasnya kalimat yang mengalir. Tapi betapa baru saja aku tergugah oleh makna yang tersaji. Harus merasakan sakit yang amat sangat untuk sementara agar bisa sembuh dari luka.
Ya, ini mengingatkanku saat beberapa hari lalu batinku terluka. Luka yang diciptakan seseorang, ketika ia tak mampu melanjutkan kebersamaan, lantaran masa lalu yang masih menjeratnya. Betapa tumpukan kedustaan yang ia miliki makin meninggi dan tak mampu bertahan saat tumpukan itu menimpanya.
Barangkali, sudah cukup perih luka yang aku rasakan. Sudah cukup waktu yang aku berikan pada batinku untuk sekejap menikmati luka. Kini saatnya aku beranjak bangkit, kembali menjalani hari dan memenangkannya.
Ponselku berdering. Sebuah pesan singkat. "Hei, makasih buat semalam ya! Kamu baru aja berhasil membuat temanku tersenyum lagi, paling tidak, mulai hari ini :) Next time, kita hang-out bareng lagi ya!" Belum sempat aku membalas, masuk lagi sebuah pesan singkat. Aku membacanya dan tersenyum. Barangkali ini untuk kali pertama aku tersenyum dengan rasa bahagia yang tak sanggup kukemas dalam kata-kata.
Dukaku baru saja menjauh.
Perihku baru saja meluruh.
Luka itu.. baru saja sembuh.
Untuk seseorang di masa laluku,
yang masih berkubang dengan masa lalunya:
"aku baru saja bisa merasa bahagia,
dan itu tanpamu.."
Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 2:24:06 pm
~
Thursday, January 24, 2008
Matahari baru saja menggeliat dari tidurnya ketika gerbong kereta membawaku tiba di kota ini. Kedua tanganku mengepal di balik saku jaket. Udara dingin menyergap, melembabkan ujung-ujung rambutku yang tergerai mencercah pundak. Ampas aroma sigaret yang terhirup dari beberapa lelaki di stasiun, sempat menggodaku untuk ikut merokok. Namun sepertinya pagi ini keinginan untuk mengisi paru-paruku dengan kepulan sigaret tak sebesar biasanya.
Sepertinya pagi ini terlalu getir untuk dikunyah. Bahkan pijar mentaripun terasa tak lagi ramah. Entah kapan anyir luka yang terhembus, dengan gegas memupus..
Aku menghela nafas panjang. Entah, sampai kapan aku akan terus bertemu dengan pagi yang selalu akan terasa seperti itu.
Tanganku memijat tombol ponsel. Mencari sebuah nama yang tersimpan di dalamnya. Batinku bergumam lirih : juga dalam hatiku, dan pikiranku. Terdengar nada sambung. Detik demi detik berlalu. Tak ada jawaban. Kembali kuulang. Masih tak ada pula jawaban. Berkali-kali.
Waktupun melenggang, merundungku dalam rasa cengang. Bila cinta dengan gegas bertandang, secepat itu pulakah ia pergi menghilang? Pikiranku beranjak mengepakkan sayap, dan dengan cakarnya ia membawaku mengangkasa. Meninggalkan hiruk pikuk yang memenuhi stasiun kereta.
...
"Aku sayang mas.. sungguh. Tapi.. ternyata aku belum bisa melupakan dia.." terdengar isak haru di seberang sana. Menyusup lembut dari ponselku, namun begitu dahsyat menghentak jantungku.
...
Aku mendesah. Kalimat serupa yang pernah kudengar dari seseorang di masa lalu. Mengapa kembali kualami lagi peristiwa seperti ini? Menjalin hubungan dengan seseorang yang masih terjerat dengan masa lalu? Aku merutuk diriku. Tapi siapakah yang dengan lihai mampu menerka dari arah mana datangnya cinta?
...
"Aku nggak tau. Tiap kali aku merasa kangen; aku justru bimbang. Untuk siapakah rasa kangen yang aku punya.. untuk mas atau untuk dia?" tanyanya lirih.
...
Aku terhenyak. Betapa saat itu rasa cemburu sekejap bergolak. Bagaimana mungkin seseorang tak mampu memilah kerinduannya, bahkan bila rindu yang ada begitu gempita meraja?
Jemariku menggulung layar ponsel, mencoba membaca kembali pesan-pesan singkat yang pernah dikirimkannya. Tentang kerinduannya yang meski terujar dalam kelakar kadang tak mungkin dilogikakan. Kerinduannya yang selalu membuatku tersenyum saat dijemput kantuk hingga saat kesegaran mengawali hari.
...
"Please, mas.. meskipun aku pernah minta mas jangan pernah tinggalkan aku, tapi sekarang aku minta mas tinggalkan saja aku.. sepertinya aku nggak bisa memberi yang terbaik buat mas.. Aku nggak bisa menjalani hubungan yang seperti ini.."
...
Jemariku memijat pangkal hidung. Mataku menerawang, mengaburkan apapun yang tadinya lugas terlihat dalam pandang. Memang aku pernah berjanji, janji seorang laki-laki. Tak akan pernah sekalipun pergi darinya. Kini perlahan mataku terpejam, mencoba menata tanya yang hanya mampu terucap dalam gumam.
Bila semua ini terjadi karena gurat masa lalu, bukankah suatu kali akan terhapus bila ia sungguh merasakan dan memaknai kehadiranku?
Kerut keningku lambat laun menegang. Tak mungkin aku menyalahkan ia yang tak mampu melepaskan masa lalunya, hanya karena aku membenarkan diriku yang dengan mudahnya mengubur masa lalu dengan cerita masa sekarang. Ya, bukankah setiap orang boleh memiliki masa lalu, seperti aku yang juga boleh dengan gegas mengenyahkan masa lalu?
Jerit peluit panjang mengoyak lamunanku. Di kejauhan sayup terdengar gemuruh kereta yang akan masuk ke stasiun.
Aku menyadari rangkaian kereta itu tentunya dengan gegas akan datang menghampiri. Tapi saat ini aku tak mudah menerka, apakah kereta itu hanya singgah sejenak dan lalu bergegas pergi. Atau jangan-jangan hanya melintas di stasiun ini tanpa berhenti?
Barangkali.. ya, barangkali seperti itulah ketika kenangan tentang masa lalu menghampiri. Tak mudah dari setiap kita untuk menerka. Apakah kenangan masa lalu yang muncul tiba-tiba, dengan tiba-tiba pula ia pergi. Mungkin saja ia hanya singgah sejenak, dan mungkin juga hanya melintas sesaat.
Beberapa saat kemudian, apa yang kulihat membuatku terpana. Kereta itu tidak pergi dari stasiun ini. Namun ia pun juga tidak tinggal di stasiun ini. Maksudnya? Ya, lokomotif lain menariknya kembali, ke arah dari mana ia datang tadi. Ia tidak pergi, tapi juga tidak tinggal.
Aku terdiam, menyadari diriku yang tergugah dari rasa gundah. Memang aku tidak akan pergi darinya. Tapi apakah itu berarti aku juga akan tetap tinggal?
Aku masih terdiam. Mencoba temukan jawabnya. Roda-roda besi kereta itu perlahan bergerak memutar. Namun gemuruhnya ternyata tak cukup kuat mengusik sepiku.
Sepi yang tercipta, sejak pagi ini.
untuk seseorang dan masa lalunya..
"aku tidak akan pergi.."
Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 1:35:57 am
~
Sunday, January 20, 2008
Aku mengulum senyum saat bocah itu perlahan meletakkan gagang telepon. Selalu, selalu dan selalu saja ia berupaya mencari tahu dimana keberadaan sang mama. Sepulang sekolah, seusai bermain, bahkan saat baru saja tergugah dari tidur siang.
“Kok handphone mama nggak diangkat ya, Om?”
Aku mendekat, menyibak poni yang sebagian menutup alis matanya.
“Mungkin mama lagi syuting, atau kebetulan memang lagi nggak bisa angkat telfon..” jawabku. Pijar di mata bocah itu perlahan meredup.
Tiba-tiba pesawat telepon berdering. Dengan gegas ia mengangkat. Tak butuh lebih dari dua detik untuk membuat wajah bocah itu berbinar. Aku melangkah menjauh. Baru saja kangen si bocah terobati. Ya, hanya kangen belaka. Sebab terlalu gegas rasanya untuk menyebut si bocah dengan sebutan anak mama.
Aku terdiam sejenak. Kangen? Gelegak rasa rindu yang tak sanggup tertahankah? Atau apa? Pikiranku mengepakkan sayapnya. Barangkali aku pernah terbungkus rasa kangen yang demikian hebat, hingga tak sanggup melepaskan diri saat kangen itu begitu menjerat.
Mataku mengatup. Terpejam. Mencari-cari momen yang mungkin membuatku kangen. Tapi seperti apa?
Menikmati gerimis yang membasahi dedaunan cemara di pelataran balairung kampus? Atau membiarkan gendang telinga tertabuh debur ombak yang ramah saat menyapa pesisir pantai selatan? Atau saat aku masih berseragam putih abu-abu, menikmati sisa hujan dari jendela kelas di sisi kanan belakang, karena dari sudut itulah kerap lengkung pelangi lugas terbias di halaman sekolah? Atau saat aku..
Aku terkesiap. Haruskah kangen yang kurasakan selalu berupa kerinduan tentang apa yang pernah terjadi di masa lalu dengan rentang waktu begitu jauh dari saat kini?
Tiba-tiba aku kangen untuk menyendiri dan menepi sejenak dari rutinitas keseharian seperti yang pernah kualami saat lalu dan kuingini lagi saat ini..
Tiba-tiba aku kangen untuk berbincang dengan hati kecilku dimana kerap terjadi perdebatan begitu saja, seperti yang pernah kualami saat lalu dan kuingini juga saat ini..
Tiba-tiba aku kangen pada saat-saat dimana tanpa sengaja kukunyah makna hidup dari sudut pandang lain dan ingin kubagikan pada orang lain.. seperti saat lalu, dan kembali kuingini saat ini.
Hei, ya! Tiba-tiba aku kangen untuk kembali menulis di blog yang lama kutinggalkan ini :)
Aku kangen untuk kembali menulis, menulis dan tentu saja : menulis!
Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 12:33:33 am
~
|
|
|