Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Thirty something. Aquarius. Moody. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

“Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.”

- Tusuk Gigi -

Adakalanya sebagian kisah yang tertulis, bukan selalu merupakan kejadian nyata.
Bisa saja merupakan imajinasi penulis demi memperkuat isi dan pesan yang ingin disampaikan.





karib tusuk gigi

agous ~ andi ~ atta
~ andian ~ anca syah ~ bhirhay ~ boit ~ bridget ~ bunglon_imut ~ cat's ~ chantee ~ chika ~ chika bagaskara ~ choenhwie ~ ciNta biRu ~ dedeath ~ dya ~ donnie ~ emil ~ enno ~ esti ~ fannie ~ gigares ~ gita ~ gretan ~ hanny ~ ilalangpatah ~ imponk ~ ira wibowo ~ isna_nk ~ julia ~ Sang Pedendang ~ kasman ~ katrin ~ kristee ~ kutubuku ~ laura ~ leony ~ linda ~ lisa ~ lisna ~ mamat ~ may ~ meiy ~ mentari kasih ~ nana ~ nda ~ neny ~ nina ~ nugie ~ pattawari ~ perca ~ pipit ~ puisi-katon ~ rara ~ rei ~ reredeny ~ reygreena ~ rosy ~ sa ~ sam ~ sarie ~ shendy ~ sitta ~ sylv ~ try ~ valens ~ w1n ~ yaya ~ yanti ~ yoan

~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Wednesday, October 01, 2008
RUANG KELEGAAN..

Perlahan aku memijak pedal gas lebih dalam lagi.  Dua angka digital petunjuk kecepatan pun dengan gegas berganti menjadi tiga digit. Mataku nyalang menelusuri garis jalan tol bandara yang begitu lengang. Mobil hybrid ini sesekali meliuk di antara kendaraan lain yang berjarak tak sepadan.

Sejak tadi aku telah mematikan pendingin udara dan tata suara. Hanya ada deru roda yang bergesekan dengan aspal jalan dan desau angin yang bertumbukan dengan bentuk aerodinamis kendaraan. Aku mengangkat sedikit kaki dari pedal gas ketika kecepatan mobil mulai bertingkah seolah pesawat yang akan lepas landas. Hmm, betapa menyenangkan dan nikmatnya berkendara di jalanan Jakarta yang seperti ini, batinku. Terlebih ketika berhasil melewati pola pengendara-pengendara mobil yang kerap menghimpun kumpulan dan mencipta jarak dengan kumpulan lain di depannya. Sering kudapati hal seperti inilah yang membuat kemacetan menjadi tampak begitu panjang.

 

Desau angin menyusup dari sela jendela yang baru saja sedikit kubuka. Terhirup kesegaran dan kelegaan setelah sekian waktu nafasku sesak terkurung dalam kendaraan. Jendela kubuka sedikit lebih lebar lagi. Aku pun menarik nafas panjang dan lalu melepaskannya perlahan. Setidaknya rasa sesak itu perlahan pupus menghilang.

 

Rasa sesak itu perlahan pupus menghilang.. aku mengulangi kalimat itu dalam batin. Hei, mengapa sepertinya aku tengah tersadar pada satu pencerahan?  Ya, aku coba untuk menganalogikan rasa sesak yang tercipta itu sebagai beragam perasaan di hati yang bertumpuk-tumpuk dan tak terkendali, seperti perasaan iri, dengki, dendam, benci, atau bahkan rasa kecewa yang membuat kita tak mampu memaafkan sebuah kesalahan! 

Aku tertegun. Barangkali selama aku belum pernah bisa membuang perasaan-perasaan yang kerap membuat hatiku begitu sesak, aku tak akan pernah menemukan ruang di hati yang sesungguhnya begitu lebar dan begitu luas. Ruang yang sebenarnya memberi kelegaan tak berbatas. Ya, sebab misalnya saja aku tidak bisa memaafkan kesalahan seseorang, maka sampai kapanpun rasa dendam itu masih ada dan menyita ruang kelegaan yang ada.

Aku percaya bahwa bila ruang kelegaan itu mulai terasa luas, rasanya seperti baru saja terbebas dari kemacetan jalan, terbebas dari antrian panjang, terbebas dari himpitan beban!

 

Kecepatan mobil kukurangi saat kulihat papan berwarna hijau menunjukkan arah keluar jalan tol menuju Mampang. Di jalan non-tol mulai padat dan ramai dengan mobil dan sepeda motor. Beberapa petugas polisi dengan sigap menata kondisi lalu lintas agar tetap dalam aturan. Sayup-sayup kudengar gema takbir menyambut hari kemenangan, hari yang fitri, hari dimana kita sebaiknya dengan penuh ketulusan membuka lebar pintu untuk memaafkan, hingga jelaga kesalahan serta kelalaian terbasuh dan terampunkan.

 

Dari jendela aku menatap langit malam yang bertabur gemintang bintang. Barangkali ruang hatiku tidak selega langit luas. Tapi bila aku mulai belajar memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain, baik disengaja ataupun lantaran kelalaian, ruang itu akan terasa lega dan seluas langit yang kulihat di atas.

Setidaknya, bagi aku.

 

 

 

Untuk karibku,

pembaca setia blog ini :

"mohon maaf, lahir dan bathin.."


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 10:42:54 am ~ Komentar (9) karib Tusuk Gigi  



Saturday, August 09, 2008
BERKEJARAN DENGAN WAKTU..

Ransel di punggungku pun ikut terguncang saat gerak langkahku bertambah kencang, mencoba lincah menyelinap di sela orang-orang yang berlalu lalang. Kalau saja sedari tadi aku tidak mengabaikan panggilan pertama, barangkali aku tidak perlu tergesa seperti ini.

"Maaf, maaf.. permisi, saya ketinggalan pesawat!" aku coba mematahkan garis antrian dengan mengacungkan boarding-pass ke petugas. Beberapa orang menoleh. Ada yang tampak tidak senang. Ah, peduli amat! batinku. Dengan gegas aku menyambar tas ransel saat keluar dari pintu detektor dan kembali berlari di koridor.

 

"Jogja, mas?" sapa seorang petugas. Aku hanya menjawab dengan anggukan lantaran sulit menata nafas. Dari pembicaraan dua arah yang dilakukannya di pemancar radio, dapat kusimpulkan bahwa penumpang terakhir yang ditunggu hanya tinggal aku. Aku mempercepat lagi ayunan langkah.

 

Bunyi dengung dan udara dingin imitasi menyambutku sama ramahnya dengan kedua pramugari di pintu kabin. Aku mengangguk, tersenyum dengan raut wajah memohon maaf. Mereka membalas dengan senyum pula. Hmm, inilah salah satu alasan aku menyukai maskapai ini. Atau, mungkin saja karena kebetulan aku penumpang kelas bisnis? Bisa jadi begitu. Bila saja yang menjadi pemicu keterlambatan adalah aku seorang penumpang kelas ekonomi, tentu yang kuterima bukan saja amarah tapi juga sumpah serapah.

 

"Terimakasih,"  sahutku sembari mengambil segelas orange juice yang ditawarkan. Setidaknya cukup untuk memupus dahaga yang tercipta saat tadi berlarian. Aku mengenakan sabuk pengaman dan merebahkan badan. Aku menghela nafas panjang, degup jantungku mulai kembali normal. Hmm, sepertinya ini bisa menjadi saat yang tepat untuk melanjutkan tidurku yang tidak cukup waktu tadi malam,  batinku.

 

"Ada acara apa di Jogja, dik?" sapa seorang bapak di sebelahku. Aku menoleh asal suara. Duh, baru saja ingin istirahat, pak! protesku dalam hati.

"Tidak ada acara apa-apa, pak. Cuma mau main aja ke Jogja," sahutku. Wah, sok akrab sekali bapak ini, tiba-tiba saja menyapa dengan pertanyaan ada acara apa? Bapak yang aneh, batinku.

"Oo, saya kira ada acara. Karena sering saya lihat adik dengan rombongan. Tumben, tidak bareng si mas," ujarnya. Ia menekankan pada kata 'mas'.

Aku mengerti. Rupanya ia kerap melihatku bepergian dengan Sang Pedendang dalam urusan show di luar kota.  Itulah mengapa dia mencoba menebak apakah ada acara tertentu di kota yang aku kunjungi. Tentu saja semua itu akhirnya malah menjadi pemicu obrolan yang panjang dan lebar, dan aku tidak cukup tangkas untuk mengelak dari itu, sejak pesawat lepas landas hingga mengudara duapuluh menit yang lalu.

 

Bapak itu tersedak saat mendengar jawabanku. Ia buru-buru meminum teh hangatnya.

"Jadi, adik belum menikah?" tanyanya. Tatapan matanya tampak meragukan jawabanku. Aku menggeleng. Cukup kuat. Hingga beberapa helai poni rambutku menyapu kelopak mata.

"Tapi sudah ada calon?" tanyanya lagi. Entah mengapa, dengan mudahnya aku berkisah. Tentang seorang perempuan sempurna, yang menyembuhkan lukaku dan mampu kembali menghangatkan tungku semangat hidupku sejak awal tahun ini. Hanya saja karena lahan pekerjaan yang berbeda dunia membuat kami harus berjuang mempertahankan hubungan pada kualitas dan bukan semata pada kuantitas pertemuan.

"Jadi, karena kebetulan dia sedang tidak ada flight schedule dan sedang ingin main-main ke Jogja, makanya saya menyusul dia.. yah, belum tentu terjadi setahun sekali, pak. Sama-sama punya waktu untuk menikmati magisnya kota Jogja bersama orang tercinta," ujarku mencoba berkelakar di ujung cerita.

"Nah, kalau begitu menurut adik, sebenarnya tadi berlari-lari untuk mengejar pesawat atau mengejar waktu?" tanyanya tiba-tiba. Aku menatapnya aneh. Mengapa pembicaraan ini seperti tak lagi menemukan alurnya? batinku.

"Ya dua-duanya pak.. mengejar pesawat biar tidak ketinggalan waktu, dan mengejar waktu biar tidak ketinggalan pesawat," jawabku sekenanya.

Bapak itu tersenyum dan menggeleng. Lantas berkisahlah ia tentang betapa selama ini ia ternyata tak selalu mampu menaklukkan waktu. Sejak muda, ia adalah seorang yang selalu berupaya menjunjung disiplin dalam hal waktu. Selalu menepati waktu, menghargai waktu. Ia pun kerap memperkecil rentang jarak waktu bila itu dirasa cukup perlu. Kalau satu hal bisa dilakukan secara singkat, mengapa harus lambat-lambat? prinsipnya. Ia cukup singkat pula menyelesaikan masa studi hingga di jenjang pendidikan yang memberinya gelar doktor.

"Wow.. tapi apa ini berarti bapak tidak percaya adanya proses?" tukasku. Aku bertanya demikian lantaran ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa tidak semua terjadi atau bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Seperti halnya hubungan percintaan atau bahkan menanak nasi misalnya.

"Itu juga saya percaya.. dan masuk akal karena tidak semua bisa dilakukan secara singkat. Tapi pernahkah adik mencoba mendahului waktu? misalnya datang lebih dulu ketika berjanji bertemu di satu tempat?" tanyanya lagi. Aku mengerutkan dahi.

"Pada saat itu kita hanya seolah sedang mendahului waktu, namun sebenarnya kita tidak pernah bisa untuk selalu mengejar waktu," sambungnya tanpa menunggu jawaban lugas dariku.

"Waktu terus berputar. Bila kita hanya diam, maka jarak antara kita dan sang waktu akan menjauh. Dan tidak setiap orang, saya ataupun adik, bisa selalu mengejar waktu yang sudah berlalu di depan kita," tambahnya.

Mataku membulat lebar, mencoba mencerna guliran kata-kata yang baru saja diucapkannya.

Ada pikiran di benak yang membuatku tergugah, tentang betapa jauh sudah dalam hidup kumenghela langkah. Hanya berpijak pada daun kering dan mengikuti ke arah mana air mengalir. Sementara waktu demi waktu terus berlalu menumpukkan lembarannya. Mentari pagi datang menghampiri dan gemintang malam menyusup pergi.  Setiap hari dengan gegas mengganti esok menjadi kemarin, dan tak selalu kusadari.

 

 

"Mari, pak.." aku berpamitan dengan si bapak yang masih sibuk menanti barang di bagasi.

"Oya, silahkan dik.." sahutnya. Tangannya menggenggam hangat menyambut uluran tanganku. Hmm, betapa sebuah obrolan yang mencerahkan, batinku.

Langkahku yang berjalan menuju pintu keluar, terhenti sesaat. Seorang gadis tersenyum menatapku dari kejauhan. Aku terpana dan membatin, ternyata seorang perempuan tidak harus selalu memiliki sayap untuk disebut : bidadari!

"Hai, mas.." sapanya saat aku menghampiri dirinya. Tangannya melingkar di pundakku. Aku menggamit pinggang dan mengecup keningnya. Gemintang matanya terpancar indah, ada rindu terbaca di sana.

"Thanks ya, udah jemput aku.. by the way, kita langsung jalan aja yuk? aku lapar nih, belum sempat makan siang tadi," cecarku.

"Mm.. bentar ya mas, tadi kata mamaku, pakde aku yang di Jogja juga kebetulan baru pulang dari Jakarta. Atau jangan-jangan tadi satu pesawat ya?"  tanyanya.

"Oh ya? Ya sudah, coba kita tunggu aja di sini," jawabku sambil menurunkan ransel dari punggung. Aku merunduk membuka restlueting tas untuk mengambil ponsel lain yang belum sempat kunyalakan.

"Eh Mas, mas.. itu tuh pakdeku!" tangannya menggapai pundakku. Aku bangkit dan terpana menatap sosok seorang bapak di kejauhan dengan koper besar di tangan kanan.

Lho, itu khan bapak yang tadi?

 

 

 

buat D, love Jogja n u.. :)

kagem pakde Widjo, matur nuwun nggih..


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 7:08:27 pm ~ Komentar (5) karib Tusuk Gigi  



Saturday, July 05, 2008
MENIRU ATAU DITIRU?

Pesan singkat yang beberapa hari lalu kubaca di layar kiri blogku sempat membuatku terperangah. Seorang karibku menjelaskan bahwa ia baru saja menemukan 'kembaran' blogku di ranah lain yang beberapa tulisannya sama persis dengan tulisanku.

Merujuk link yang ia berikan, aku coba bertandang ke blog yang bernama http://semuatentangdia.blogspot.com itu. Aku kembali terperangah. Membaca tulisan-tulisan di blog itu seperti sedang berdiri di depan sebuah cermin. Gerak raut muka, kibasan tangan, tergambar begitu serupa di depan mata.  Hmm, tulisan-tulisan yang lain cukup menarik, tapi mengapa beberapa ada yang serupa dengan celoteh benakku di blog ini?  Selintas terbersit tanya, apakah Sang Maha Sempurna juga menciptakan dua orang manusia begitu serupa dalam orisinalitas berkarya?

 

Kubiarkan waktuku terbuang percuma untuk membaca 'kembaran' blogku itu. Beberapa saat kemudian aku menggeleng-gelengkan kepala.  Sepertinya aku mulai menemukan kreatifitas yang ia miliki, yaitu selain menyalin ulang tulisanku, ia pun mengganti nama tokoh dan tempat yang kugambarkan. Bahkan kisah-kisah yang terjadi di sekian tahun lalu!

 

Aku menghela nafas panjang meredam gejolak yang ada, dan berharap energi negatif lekas pupus dan menghilang. Perlahan senyumku mengembang. Apa pasal? Yah, ternyata ini kerap terjadi dan ada di sekitar kita. Betapa rapuhnya pilar kejujuran; yang hanya karena perilaku mimemis manusia lantas dengan mudahnya kita bersikap permisif pada budaya 'meniru' ?

Lihat saja kasus kriminalitas yang menghiasi layar kaca televisi swasta di siang hari, para pelakunya ternyata meniru modus operandi yang pernah dilakukan pelaku kejahatan sebelumnya. Lalu sikap konsumtif bagi mereka yang menjadi pecandu belanja, tidakkah salah satu keinginan itu tercipta lantaran ingin meniru 'si anu' yang lebih dulu memiliki produk keluaran terbaru? Tidak pula itu, lagu-lagu yang tengah dinikmati pecinta musik negeri ini ternyata tidak lepas dari budaya meniru!

 

Mataku menerawang pada langit-langit kamar. Ia tidak seperti keempat sisi tembok lainnya yang bernuansa biru. Tidak berwarna coklat seperti rak buku. Tidak sewarna dengan tempat tidur, dengan meja komputer, dengan warna case gitar.  Batinku bergumam, ya langit-langit itu, ia tidak meniru dan tidak ditiru.

 

Astaga! mungkin lantaran terlalu serius memandangi isi kamar, aku tak segera sadar saat ponselku sedari tadi bergetar. Rupanya satu pesan singkat.

".. aku dah dapat kaos-nya. lim-ed, bagus, cocok buat kamu. tadinya sih ada yg model lain. Tp gambarnya sudah familiar. Ntar dikira gak original. Tau dong, di Indo khan banyak tiruannya?"

 

Aku tertawa lebar. Tergelak. Terpingkal.

 

 

dedicated to :
para pekerja seni
yang jujur dalam berkreasi
serta
para pembaca blog ini
yg setia mengunjungi

 

n BIG thx to :
Hanny, Liez, Revti, Renny, Bonkopi, Aiz
for ur concern n support! :)

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 4:47:38 pm ~ Komentar (11) karib Tusuk Gigi  



Wednesday, June 25, 2008
MEMBINGKAI KEINDAHAN..

Aku terpana pada keindahan senja yang ada dan mencoba menikmatinya. Menikmati mentari yang perlahan mengecil dikunyah garis cakrawala. Gumpalan mega seperti terkoyak saat kepak camar menyusup di selanya. Wajahku menengadah, meresapi hembus angin yang memporandakan anak rambut di dahi. Di kejauhan, buih ombak menghapus jejak sepasang muda-mudi yang tengah melintasi bibir pantai.

 

Lambat laun langit meredup. Tanganku menggenggam kamera yang tegak bersandar pada tripod. Satu tekanan jemari telunjuk membingkai apa yang ada. Sekian detik kemudian, di layar kecil kamera terlihat jelas. Semburat bias jingga menjadi latar belakang sepasang muda-mudi tadi, menghadirkan siluet mereka yang tengah berpagutan.

Aku tersenyum kecil. Tidak cukup gagal untuk seorang pemula, meski aku masih harus banyak belajar pada rekan-rekan pemotret yang kukenal di komunitas fotografi. Itulah mengapa di komunitas itu kuperkenalkan diri sebagai : seorang blogger yang tengah belajar menjadi fotografer.  

Sejenak aku seperti tersadar akan sesuatu. Begitu mudahkah membingkai keindahan di dalam lingkar lensa? Lebih mudah mana dibandingkan membingkai keindahan dalam untaian kata? Aku terhenyak. Belum pernah aku berpikir untuk mempertanyakan itu, atau bahkan membandingkan kedua pertanyaan itu. Di benak malah terbayang saat masa kuliah yang membahas tentang keindahan dalam konsep filsafati, berbincang secara mendasar mengenai pengalaman estetis. Oh tidak, hentikan itu! batinku.

 

Tunggu dulu, lagi-lagi aku tersadar. Seperti halnya pelukis yang membingkai keindahan dalam kanvasnya, bisa jadi begitu pula seorang pemotret membungkus keindahan dengan tombol rananya. Demikian pula halnya dengan penyair dan penulis lirik lagu ketika berbincang mengenai keindahan. Kesemuanya mungkin saja sama tujuannya, menyimpan keindahan yang ada dan lalu menuangkan kembali sebagai sebuah karya. Hingga beragam gambar ataupun beruntai kata yang tercipta, namun sepertinya semua terkemas ke dalam satu makna : indah. Ya, hanya pada satu kata : indah.

 

Aku kembali menengadah, menatap cakrawala malam. Bulan baru saja menggantikan mentari yang pergi tenggelam. Gemintang bintang tersebar mengisi kekosongan ruang di langit kelam. Kerlip lelampuan kapal dan mercusuar di kejauhan seperti kunang-kunang di gelap temaram. Bagiku ini indah.

Kembali aku tersadar, sedikit atau banyak kata berbaris, sedikit atau banyak kalimat tertulis mencoba ungkapkan keindahan ini, tetap saja terkemas dalam satu kata : indah.

 

Hei, lebih indah mana suasana pantai di sore tadi atau malam ini? batinku. Aku terpana pada pertanyaanku sendiri. Bagaimana mungkin secara obyektif dapat kubandingkan keindahan yang kualami dengan masa waktu yang berbeda serta rasa menikmati keindahan yang berbeda pula?

 

Ponselku berdering sesaat menandakan masuknya sebuah pesan singkat.

"Hai.. besok aku off. Kita dinner yuk? Di tempat yg dulu itu. Yg kamu blg bisa lihat jakarta yang indah di malam hari :) Mau khan?"

Jemariku menari di atas tombol ponsel. Dengan gegas menjawab pesan singkat itu. Ada rasa paling indah di hati yang dengan gegas merambah, membuatku tersenyum sumringah. Rasa rindu berkepanjangan seolah akan terlunasi sudah. Kesibukanku pada pekerjaan yang kerap membuatku terbuai dan pekerjaannya di salah satu maskapai, membuat kebersamaan kami jarang sekali tergapai.

 

Batinku menggumam. Esok pagi aku harus lekas kembali ke Jakarta. Akan kuresapi malam yang indah dengan seseorang yang.. tiba-tiba aku terperangah. Aku layak mengaku kalah.

Barangkali dialah keindahan dimana aku tidak pernah akan mampu untuk merangkumnya ke dalam satu kata. Atau bahkan : seribu kata.

 

 

untuk seorang bidadari

yang membuatku percaya

lengkung pelangi terjadi

karena ulahnya

: kerap bergayut di salah satu ujungnya


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 1:52:01 am ~ Komentar (9) karib Tusuk Gigi  



Thursday, June 19, 2008
ITU BUKAN AKU..

Tiga kata : itu bukan aku. Sejak dua minggu lalu, aku cukup sering mengucap kalimat yang terdiri dari tiga kata tadi. Ini lantaran berita yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta melalui media televisi, streaming video dan website tentang hilangnya mobil milik rekanku – sang pedendang, yang dikabarkan dibawa kabur saat ia sedang rekaman di studio. Alhasil, dalam kurun waktu tak lama setelah tayangan itu dikunyah mentah-mentah oleh pemirsa, puluhan pesan singkat berebut menjejali ponselku dan rekanku. Dari yang mempertanyakan sebab musabab dan kronologis, menyangsikan kebenaran berita, hingga yang tanpa basa-basi dan emosi langsung berupaya mencari keberadaanku dimanapun dan dengan cara apapun!

 

Mulutku lebar menganga. Entah dimana letak kesalahpahaman bermula. Mungkin saja karena dalam tayangan tersebut sesekali menampilkan gambar kesibukanku dan si pedendang, yang lantas menuntun opini publik bahwa akulah pelaku utama dalam kejadian itu. 

Yang jelas, sebenarnya kisah kehilangan mobil milik rekanku itu telah terjadi sekian tahun lalu. Diceritakan ulang dalam sesi kisah pesohor dan kriminalitas hanya sebagai pengalaman belaka, dan berharap hal serupa tidak terulang dan terjadi pada siapa saja. Yah, sepertinya isi berita tersebut hanya itu saja.

 

Itu saja? Yah, tapi siapa dapat menebak hanya sekian waktu sejak tayangan itu berlalu, lantas dalam sekejap nama dan citra diriku tersaput debu? Dan saat ini, bisa jadi masih saja ada yang beranggapan akulah si pencuri mobil dalam kisah itu. Begitu gegas citra diri mati, terhunus tajamnya belati opini.

 

Di telingaku masih terngiang kata-kata dari rekan-rekan dekat..

"Coba deh kamu klarifikasi.. ini khan menyangkut nama baik kamu juga lho.."

"Ya ampun.. biasanya si artis yang digosipin, lha ini kok malah kamu?"

"stock shotnya ada kamu sih! Udah gitu narasinya bisa aja menggiring opini penonton.."

Aku menghela nafas panjang, dan bertanya : "Jadi, aku harus klarifikasi?"

"Ya iyaaalahh!! masa ya iya doong??"

Mulutku kembali menganga.

 

…..

 

 

Malam ini, di rerimbunan kesibukan yang ada, sepertinya aku menemukan sejumput waktu luang untuk kembali menulis di blog ini. Tapi apa yang akan kutulis? Sebuah klarifikasi? Guliran kalimat pembelaan diri? Untuk apa?

 

Satu pemikiran yang tercetus di benak, mencerahkanku untuk berlaku bijak. Sepertinya cermin keseharian baru saja terbias dari sana. Kerapkali tanpa disadari ada di antara kita yang dengan mudah melahap satu warta, mengunyah mentah-mentah dan dengan gegas menelannya bulat-bulat.

Aku terpana. Betapa rentan sebuah kebenaran akan menjadi sebuah ketidakbenaran ataupun sebaliknya, bila kita tidak dengan teliti mengamati dan mencermati apa yang akan kita kunyah. Apapun itu. Pemahaman, pandangan hidup, ideologi, budaya, atau apa saja.  Bahkan yang kita jumpai pula dalam dinamika hidup keseharian. Selama dengan mudah kita berapriori tanpa klarifikasi, maka semakin besar pula garis keretakan pada pilar-pilar yang menopang negeri ini!

 

Aku memejamkan mata. Di benakku, tergambar mereka yang dengan gegas begitu mudah menebak tanpa lagi berpikir bijak, mereka yang lekas terpancing untuk saling menghasut serta berupaya mengoyak kedamaian negeri ini, mereka yang menjadi jelaga pada kejernihan pertiwi, mereka yang mengalihkan satu permasalahan dengan permasalahan lain.  

Meski terasa miris, sepertinya aku beruntung; karena mereka itu : bukan aku.

 

 

untuk sebuah negeri

yang begitu kucinta

 

 

cat.

'gossip'  tentang kriminalitas dan selebritis, dapat di klik di sini

updated 1 Juli 2008 : berita klarifikasi dapat di klik di sini,

 

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 1:34:23 am ~ Komentar (4) karib Tusuk Gigi  



Next Page