Tusuk Gigi
~ Maieutike Tekhne, Sokrates ~
Seperti halnya tusuk gigi yang berupaya mencungkil secuil sisa makanan di geligi,
semoga kita juga bisa mencungkil ‘pemahaman semu’ yang menyempil di benak selama ini..
- bisa jadi itu berupa apriori, asumsi negatif,
bingkai pandang sempit dan bla-bla-bla lainnya..

dan siapapun, bisa menjadi tusuk gigi..
bagi orang lain, bagi diri sendiri..

Lalu.. sementara ini,
sepertinya aku harus menjadi tusuk gigi
: bagi diriku sendiri..


"Cogito, ergo sum"

klik di sini, untuk mencari tahu siapa aku.. :)

Aliasku, si Tusuk Gigi.
Lelaki aquarius. Pemuja keindahan dan kesempurnaan, penyuka musik, gemar berbagi visi, dan kadang menganggap beberapa fragmen dalam hidup secara 'kebetulan' terjadi.

Sepertinya hidup ini adalah juga barisan kata-kata.
Sebagian orang mampu membaca, tapi tidak dapat menangkap maknanya.
Sebagian malah merasa memahaminya, tanpa perlu lagi menyimak aksaranya.

- Tusuk Gigi -



~ credits ~


JANGAN ASAL COPY PASTE..

   

<< December 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, February 26, 2013
KEMBALI..

Entah, sudah berapa lama tak kunikmati suasana pantai seperti ini. Saat bundar mentari akan memecah bersama cahaya jingga di ujung senja nanti. Perlahan kutabur remah-remah pasir putih di atas jemari yang telanjang tanpa alas kaki. Dihembus angin, curahan pasir itu meliukkan diri serupa gemulai seorang penari.
Sebuah teriakan lantang mengoyak lamunanku. Seorang bocah asyik bermain-main dengan anjingnya. Ia melempar botol plastik jauh-jauh, lalu si anjing gegas berlari menghampiri. Menggigit ujung botol dan membawa padanya kembali. Bocah itu pun melemparnya lebih jauh lagi. Berulang kali. Sejauh apapun, si anjing memberikan padanya lagi. Kulebarkan arah pandang. Di kejauhan sepasang muda-mudi tergelak bersama. Usai bersusahpayah dengan ranting menggurat inisial mereka, di atas pasir basah, buih ombak kontan menghapusnya musnah. Namun tanpa lelah, si pemuda menuliskannya kembali. Aku tersenyum sendiri, merasa deja vu pada apa yang tengah kuamati. Kutengadahkan wajah pada langit cerah berserabut gumpal awan seputih kapas, yang membiarkan diri terusung angin di langit luas. Burung-burung hilirmudik kepakkan sayap bebas di alam lepas.

Menikmati pantai seperti ini, tentunya tak mesti bisa kurasakan tiap kali. Ada perasaan rindu di sela-sela kesibukanku untuk kembali menikmati suasana serupa ini. Kembali? Ya, kembali. Kembali, bukanlah semata selalu merupakan kegiatan repetisi yang dilakukan berulang lagi. Bukan serupa bocah dan anjingnya, ataupun kedua muda-mudi yang kukatakan tadi. Kembali melakukan hal yang tidak atau belum sempat tersentuh lagi. Mungkin karena kesempatan atau bahkan kesibukan. Disadari atau tak disadari. Kembali. Bisa jadi itu akan membuatku lebih berpeka lagi. Ya, kembali mendengar, melihat, menyimak, mengamati, merasa apa yang sekian waktu tanpa kusadari terlewati. Hei, ternyata cukup.. eh maksudku, ternyata begitu lama aku tak kembali menulis di blog ini lagi ya? Begitu lama aku tak kembali berbagi, apa yang dicelotehkan benak dan hati. Ya, sepertinya ini saat yang tepat untuk aku memulai kembali. Tak mesti dengan tulisan yang berat dengan makna sarat tersirat. Cukup dengan yang ringan, kadang di benak dan hati pembaca jauh mudah tersimpan..

"Ya ampun! Anak nakal ya!" Jerit kesal seorang ibu penjaja warung sembari menjewer kuping seorang anak lelaki. Aku menengok asal suara. Ooo.. bocah itu tadi. "Kalau sudah kamu pakai, ya dibuang, jangan dikembalikan lagi!" lanjutnya tanpa melepaskan jarinya dari kuping si bocah yang mulai memerah. Aku terpana, rupanya si anak kembali memasukkan tusukgigi yang sudah ia gunakan, ke tempat tusukgigi itu kembali. Olala, pantas saja!


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 12:05:58 pm ~ Komentar (7) karib Tusuk Gigi  



Thursday, September 16, 2010
GUDANG..

Entah berapa kali dalam setahun aku memasuki kamar ini.  Yang jelas, saat sekian tahun lalu rumah ini direnovasi, tak pernah terpikir untuk menjadikan kamar ini sebagai sebuah gudang. Ya, gudang. Tempat dimana biasanya orang menyimpan berbagai barang yang sudah dianggap usang.

Mataku memandang ke penjuru ruang. Di sembarang sudut tertumpuk berbagai kardus barang elektronik rapih tertata. Lalu kipas angin tua, perangkat sistem suara dengan teknologi masa lalu, kayu-kayu dipan, meja belajar, mesin jahit kesayangan nenek dan barang-barang yang – menurutku - sudah tak terpakai lagi. Kendati kamar ini tak terlalu berdebu, namun seolah mereka tampak kusam tertimbun pula oleh tumpukan debu waktu.

Aku menghampiri sebuah kardus yang tersudut menyendiri, tak jauh dari lemari kayu berwarna kecoklatan. Lemari kecil yang pernah menghiasi kamar tidurku sekian belas tahun lalu. Bibirku mengerucut meniup selotip yang mengunci kardus itu. Debu halus mengepul, membiaskan jaring laba-laba yang entah sudah berapa lama menjadi tirai jendela di sudut kanan. Suara robekan selotip kontan mengoyak keheningan ruangan.

......

"Kita sudah berkali-kali latihan dan hasilnya seperti ini?!" suaraku menegang, jemari mengepal kencang. Aku menjatuhkan gitar di rerumputan. Berdebum, satu nada memekik sumbang. Beberapa pasang mata meredup. Seseorang dari mereka merengkuh bahu, mencoba redakan amarahku.

Aku memandangi foto yang tampak menguning. Foto saat aku dan beberapa teman vocal group tengah tersenyum usai menerima sebuah piala kemenangan. Ah, andai mereka mengerti bahwa sikapku yang mudah marah saat melatih, adalah untuk menyadarkan mereka akan makna kedisiplinan demi sebuah kesempurnaan yang sesungguhnya mampu diraih..

 

Jemariku membuka lembar-lembar sebuah buku bergambar simbol hati berwarna merah jambu. Lembar-lembar berhiaskan tulisan tangan yang tersusun rapi dengan tinta biru. Sehelai bulu ayam dengan selotip kecoklatan terjatuh. Aku memungutnya, mencoba mencari di lembar yang mana tadi ia direkatkan. Beberapa baris tulisan di sana membuatku sesaat termangu.

"Diary sayang, aku nggak akan pernah melupakan ini. Nggak tau kenapa, gara-gara bulu ayam ini, kami berdua sempat dikira pacaran lho! ..hahaha! Pantas aja, si Komang tampaknya malah menjauh dari dia. Gagal deh, aku menjodohkan mereka.. Duh, gimana yaa??"

Tanganku mengibaskan lembar-lembar yang penuh dengan tulisan dan gambar itu hingga ke satu lembar dimana setangkai bunga kering yang tampak merapuh menjadi penghias di tengahnya.

"Diaryku, aku akan tetap menyimpan bunga ini. Bunga yang suatu kali akan layu dan mati, tapi ia tetap tersimpan di buku ini. Seperti rasa yang aku simpan ini. Mungkin pula akan layu dan mati, tapi ia tetap tersimpan di hati.."

Satu bercak yang tampak melunturkan tinta biru kontan menyudutkanku akan kenangan saat itu. Saat buku ini kuterima di malam perpisahan; malam dimana setelahnya tak pernah lagi tercipta pertemuan. Batinku berbisik lirih. Sesungguhnya saat itu aku pun menginginkannya, lebih dari sekedar sahabat biasa..

.....

 

Beragam gambar menyeruak di benak, singgah sejenak lalu perlahan pergi beranjak.  Entah sudah berapa lama aku berada di dalam kamar yang – akhirnya - menjadi gudang, memandang barang-barang usang yang membuatku terkenang.

Aku terhenyak. Usang dan hanya dikenang.

Sekali lagi. Usang dan hanya dikenang.

Tiba-tiba aku teringat blogku yang sudah sekian lama tak pernah lagi kuisi, kendati masih ada yang menghampiri dan pula menanti. Saat kukembali membaca tulisan-tulisan yang ada, memang selalu ada sesuatu dalam batin yang bertandang dan kukenang. Pedih, suka, isak dan gelak memadu dalam rasa yang sulit untuk kulugaskan dalam rangkuman kata. Tapi apakah akan selalu begitu? Hanya mengenang yang pernah ada, mengenang beragam kisah di dalamnya, mengenang, mengenang dan terus mengenang, hingga membiarkan semua tulisan di sana pada akhirnya hanya menjadi barang usang?

 

Aku tak ingin membiarkan blog ini sebagai sebuah gudang.

Batinku meradang. Blogku, bukan gudang.

Tak akan usang dan tak hanya dikenang.

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 3:01:25 am ~ Komentar (8) karib Tusuk Gigi  



Wednesday, October 01, 2008
RUANG KELEGAAN..

Perlahan aku memijak pedal gas lebih dalam lagi.  Dua angka digital petunjuk kecepatan pun dengan gegas berganti menjadi tiga digit. Mataku nyalang menelusuri garis jalan tol bandara yang begitu lengang. Mobil hybrid ini sesekali meliuk di antara kendaraan lain yang berjarak tak sepadan.

Sejak tadi aku telah mematikan pendingin udara dan tata suara. Hanya ada deru roda yang bergesekan dengan aspal jalan dan desau angin yang bertumbukan dengan bentuk aerodinamis kendaraan. Aku mengangkat sedikit kaki dari pedal gas ketika kecepatan mobil mulai bertingkah seolah pesawat yang akan lepas landas. Hmm, betapa menyenangkan dan nikmatnya berkendara di jalanan Jakarta yang seperti ini, batinku. Terlebih ketika berhasil melewati pola pengendara-pengendara mobil yang kerap menghimpun kumpulan dan mencipta jarak dengan kumpulan lain di depannya. Sering kudapati hal seperti inilah yang membuat kemacetan menjadi tampak begitu panjang.

 

Desau angin menyusup dari sela jendela yang baru saja sedikit kubuka. Terhirup kesegaran dan kelegaan setelah sekian waktu nafasku sesak terkurung dalam kendaraan. Jendela kubuka sedikit lebih lebar lagi. Aku pun menarik nafas panjang dan lalu melepaskannya perlahan. Setidaknya rasa sesak itu perlahan pupus menghilang.

 

Rasa sesak itu perlahan pupus menghilang.. aku mengulangi kalimat itu dalam batin. Hei, mengapa sepertinya aku tengah tersadar pada satu pencerahan?  Ya, aku coba untuk menganalogikan rasa sesak yang tercipta itu sebagai beragam perasaan di hati yang bertumpuk-tumpuk dan tak terkendali, seperti perasaan iri, dengki, dendam, benci, atau bahkan rasa kecewa yang membuat kita tak mampu memaafkan sebuah kesalahan! 

Aku tertegun. Barangkali selama aku belum pernah bisa membuang perasaan-perasaan yang kerap membuat hatiku begitu sesak, aku tak akan pernah menemukan ruang di hati yang sesungguhnya begitu lebar dan begitu luas. Ruang yang sebenarnya memberi kelegaan tak berbatas. Ya, sebab misalnya saja aku tidak bisa memaafkan kesalahan seseorang, maka sampai kapanpun rasa dendam itu masih ada dan menyita ruang kelegaan yang ada.

Aku percaya bahwa bila ruang kelegaan itu mulai terasa luas, rasanya seperti baru saja terbebas dari kemacetan jalan, terbebas dari antrian panjang, terbebas dari himpitan beban!

 

Kecepatan mobil kukurangi saat kulihat papan berwarna hijau menunjukkan arah keluar jalan tol menuju Mampang. Di jalan non-tol mulai padat dan ramai dengan mobil dan sepeda motor. Beberapa petugas polisi dengan sigap menata kondisi lalu lintas agar tetap dalam aturan. Sayup-sayup kudengar gema takbir menyambut hari kemenangan, hari yang fitri, hari dimana kita sebaiknya dengan penuh ketulusan membuka lebar pintu untuk memaafkan, hingga jelaga kesalahan serta kelalaian terbasuh dan terampunkan.

 

Dari jendela aku menatap langit malam yang bertabur gemintang bintang. Barangkali ruang hatiku tidak selega langit luas. Tapi bila aku mulai belajar memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain, baik disengaja ataupun lantaran kelalaian, ruang itu akan terasa lega dan seluas langit yang kulihat di atas.

Setidaknya, bagi aku.

 

 

 

Untuk karibku,

pembaca setia blog ini :

"mohon maaf, lahir dan bathin.."


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 10:42:54 am ~ Komentar (6) karib Tusuk Gigi  



Saturday, August 09, 2008
BERKEJARAN DENGAN WAKTU..

Ransel di punggungku pun ikut terguncang saat gerak langkahku bertambah kencang, mencoba lincah menyelinap di sela orang-orang yang berlalu lalang. Kalau saja sedari tadi aku tidak mengabaikan panggilan pertama, barangkali aku tidak perlu tergesa seperti ini.

"Maaf, maaf.. permisi, saya ketinggalan pesawat!" aku coba mematahkan garis antrian dengan mengacungkan boarding-pass ke petugas. Beberapa orang menoleh. Ada yang tampak tidak senang. Ah, peduli amat! batinku. Dengan gegas aku menyambar tas ransel saat keluar dari pintu detektor dan kembali berlari di koridor.

 

"Jogja, mas?" sapa seorang petugas. Aku hanya menjawab dengan anggukan lantaran sulit menata nafas. Dari pembicaraan dua arah yang dilakukannya di pemancar radio, dapat kusimpulkan bahwa penumpang terakhir yang ditunggu hanya tinggal aku. Aku mempercepat lagi ayunan langkah.

 

Bunyi dengung dan udara dingin imitasi menyambutku sama ramahnya dengan kedua pramugari di pintu kabin. Aku mengangguk, tersenyum dengan raut wajah memohon maaf. Mereka membalas dengan senyum pula. Hmm, inilah salah satu alasan aku menyukai maskapai ini. Atau, mungkin saja karena kebetulan aku penumpang kelas bisnis? Bisa jadi begitu. Bila saja yang menjadi pemicu keterlambatan adalah aku seorang penumpang kelas ekonomi, tentu yang kuterima bukan saja amarah tapi juga sumpah serapah.

 

"Terimakasih,"  sahutku sembari mengambil segelas orange juice yang ditawarkan. Setidaknya cukup untuk memupus dahaga yang tercipta saat tadi berlarian. Aku mengenakan sabuk pengaman dan merebahkan badan. Aku menghela nafas panjang, degup jantungku mulai kembali normal. Hmm, sepertinya ini bisa menjadi saat yang tepat untuk melanjutkan tidurku yang tidak cukup waktu tadi malam,  batinku.

 

"Ada acara apa di Jogja, dik?" sapa seorang bapak di sebelahku. Aku menoleh asal suara. Duh, baru saja ingin istirahat, pak! protesku dalam hati.

"Tidak ada acara apa-apa, pak. Cuma mau main aja ke Jogja," sahutku. Wah, sok akrab sekali bapak ini, tiba-tiba saja menyapa dengan pertanyaan ada acara apa? Bapak yang aneh, batinku.

"Oo, saya kira ada acara. Karena sering saya lihat adik dengan rombongan. Tumben, tidak bareng si mas," ujarnya. Ia menekankan pada kata 'mas'.

Aku mengerti. Rupanya ia kerap melihatku bepergian dengan Sang Pedendang dalam urusan show di luar kota.  Itulah mengapa dia mencoba menebak apakah ada acara tertentu di kota yang aku kunjungi. Tentu saja semua itu akhirnya malah menjadi pemicu obrolan yang panjang dan lebar, dan aku tidak cukup tangkas untuk mengelak dari itu, sejak pesawat lepas landas hingga mengudara duapuluh menit yang lalu.

 

Bapak itu tersedak saat mendengar jawabanku. Ia buru-buru meminum teh hangatnya.

"Jadi, adik belum menikah?" tanyanya. Tatapan matanya tampak meragukan jawabanku. Aku menggeleng. Cukup kuat. Hingga beberapa helai poni rambutku menyapu kelopak mata.

"Tapi sudah ada calon?" tanyanya lagi. Entah mengapa, dengan mudahnya aku berkisah. Tentang seorang perempuan sempurna, yang menyembuhkan lukaku dan mampu kembali menghangatkan tungku semangat hidupku sejak awal tahun ini. Hanya saja karena lahan pekerjaan yang berbeda dunia membuat kami harus berjuang mempertahankan hubungan pada kualitas dan bukan semata pada kuantitas pertemuan.

"Jadi, karena kebetulan dia sedang tidak ada flight schedule dan sedang ingin main-main ke Jogja, makanya saya menyusul dia.. yah, belum tentu terjadi setahun sekali, pak. Sama-sama punya waktu untuk menikmati magisnya kota Jogja bersama orang tercinta," ujarku mencoba berkelakar di ujung cerita.

"Nah, kalau begitu menurut adik, sebenarnya tadi berlari-lari untuk mengejar pesawat atau mengejar waktu?" tanyanya tiba-tiba. Aku menatapnya aneh. Mengapa pembicaraan ini seperti tak lagi menemukan alurnya? batinku.

"Ya dua-duanya pak.. mengejar pesawat biar tidak ketinggalan waktu, dan mengejar waktu biar tidak ketinggalan pesawat," jawabku sekenanya.

Bapak itu tersenyum dan menggeleng. Lantas berkisahlah ia tentang betapa selama ini ia ternyata tak selalu mampu menaklukkan waktu. Sejak muda, ia adalah seorang yang selalu berupaya menjunjung disiplin dalam hal waktu. Selalu menepati waktu, menghargai waktu. Ia pun kerap memperkecil rentang jarak waktu bila itu dirasa cukup perlu. Kalau satu hal bisa dilakukan secara singkat, mengapa harus lambat-lambat? prinsipnya. Ia cukup singkat pula menyelesaikan masa studi hingga di jenjang pendidikan yang memberinya gelar doktor.

"Wow.. tapi apa ini berarti bapak tidak percaya adanya proses?" tukasku. Aku bertanya demikian lantaran ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa tidak semua terjadi atau bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Seperti halnya hubungan percintaan atau bahkan menanak nasi misalnya.

"Itu juga saya percaya.. dan masuk akal karena tidak semua bisa dilakukan secara singkat. Tapi pernahkah adik mencoba mendahului waktu? misalnya datang lebih dulu ketika berjanji bertemu di satu tempat?" tanyanya lagi. Aku mengerutkan dahi.

"Pada saat itu kita hanya seolah sedang mendahului waktu, namun sebenarnya kita tidak pernah bisa untuk selalu mengejar waktu," sambungnya tanpa menunggu jawaban lugas dariku.

"Waktu terus berputar. Bila kita hanya diam, maka jarak antara kita dan sang waktu akan menjauh. Dan tidak setiap orang, saya ataupun adik, bisa selalu mengejar waktu yang sudah berlalu di depan kita," tambahnya.

Mataku membulat lebar, mencoba mencerna guliran kata-kata yang baru saja diucapkannya.

Ada pikiran di benak yang membuatku tergugah, tentang betapa jauh sudah dalam hidup kumenghela langkah. Hanya berpijak pada daun kering dan mengikuti ke arah mana air mengalir. Sementara waktu demi waktu terus berlalu menumpukkan lembarannya. Mentari pagi datang menghampiri dan gemintang malam menyusup pergi.  Setiap hari dengan gegas mengganti esok menjadi kemarin, dan tak selalu kusadari.

 

 

"Mari, pak.." aku berpamitan dengan si bapak yang masih sibuk menanti barang di bagasi.

"Oya, silahkan dik.." sahutnya. Tangannya menggenggam hangat menyambut uluran tanganku. Hmm, betapa sebuah obrolan yang mencerahkan, batinku.

Langkahku yang berjalan menuju pintu keluar, terhenti sesaat. Seorang gadis tersenyum menatapku dari kejauhan. Aku terpana dan membatin, ternyata seorang perempuan tidak harus selalu memiliki sayap untuk disebut : bidadari!

"Hai, mas.." sapanya saat aku menghampiri dirinya. Tangannya melingkar di pundakku. Aku menggamit pinggang dan mengecup keningnya. Gemintang matanya terpancar indah, ada rindu terbaca di sana.

"Thanks ya, udah jemput aku.. by the way, kita langsung jalan aja yuk? aku lapar nih, belum sempat makan siang tadi," cecarku.

"Mm.. bentar ya mas, tadi kata mamaku, pakde aku yang di Jogja juga kebetulan baru pulang dari Jakarta. Atau jangan-jangan tadi satu pesawat ya?"  tanyanya.

"Oh ya? Ya sudah, coba kita tunggu aja di sini," jawabku sambil menurunkan ransel dari punggung. Aku merunduk membuka restlueting tas untuk mengambil ponsel lain yang belum sempat kunyalakan.

"Eh Mas, mas.. itu tuh pakdeku!" tangannya menggapai pundakku. Aku bangkit dan terpana menatap sosok seorang bapak di kejauhan dengan koper besar di tangan kanan.

Lho, itu khan bapak yang tadi?

 

 

 

buat D, love Jogja n u.. :)

kagem pakde Widjo, matur nuwun nggih..


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 7:08:27 pm ~ Komentar (5) karib Tusuk Gigi  



Saturday, July 05, 2008
MENIRU ATAU DITIRU?

Pesan singkat yang beberapa hari lalu kubaca di layar kiri blogku sempat membuatku terperangah. Seorang karibku menjelaskan bahwa ia baru saja menemukan 'kembaran' blogku di ranah lain yang beberapa tulisannya sama persis dengan tulisanku.

Merujuk link yang ia berikan, aku coba bertandang ke blog yang bernama http://semuatentangdia.blogspot.com itu. Aku kembali terperangah. Membaca tulisan-tulisan di blog itu seperti sedang berdiri di depan sebuah cermin. Gerak raut muka, kibasan tangan, tergambar begitu serupa di depan mata.  Hmm, tulisan-tulisan yang lain cukup menarik, tapi mengapa beberapa ada yang serupa dengan celoteh benakku di blog ini?  Selintas terbersit tanya, apakah Sang Maha Sempurna juga menciptakan dua orang manusia begitu serupa dalam orisinalitas berkarya?

 

Kubiarkan waktuku terbuang percuma untuk membaca 'kembaran' blogku itu. Beberapa saat kemudian aku menggeleng-gelengkan kepala.  Sepertinya aku mulai menemukan kreatifitas yang ia miliki, yaitu selain menyalin ulang tulisanku, ia pun mengganti nama tokoh dan tempat yang kugambarkan. Bahkan kisah-kisah yang terjadi di sekian tahun lalu!

 

Aku menghela nafas panjang meredam gejolak yang ada, dan berharap energi negatif lekas pupus dan menghilang. Perlahan senyumku mengembang. Apa pasal? Yah, ternyata ini kerap terjadi dan ada di sekitar kita. Betapa rapuhnya pilar kejujuran; yang hanya karena perilaku mimemis manusia lantas dengan mudahnya kita bersikap permisif pada budaya 'meniru' ?

Lihat saja kasus kriminalitas yang menghiasi layar kaca televisi swasta di siang hari, para pelakunya ternyata meniru modus operandi yang pernah dilakukan pelaku kejahatan sebelumnya. Lalu sikap konsumtif bagi mereka yang menjadi pecandu belanja, tidakkah salah satu keinginan itu tercipta lantaran ingin meniru 'si anu' yang lebih dulu memiliki produk keluaran terbaru? Tidak pula itu, lagu-lagu yang tengah dinikmati pecinta musik negeri ini ternyata tidak lepas dari budaya meniru!

 

Mataku menerawang pada langit-langit kamar. Ia tidak seperti keempat sisi tembok lainnya yang bernuansa biru. Tidak berwarna coklat seperti rak buku. Tidak sewarna dengan tempat tidur, dengan meja komputer, dengan warna case gitar.  Batinku bergumam, ya langit-langit itu, ia tidak meniru dan tidak ditiru.

 

Astaga! mungkin lantaran terlalu serius memandangi isi kamar, aku tak segera sadar saat ponselku sedari tadi bergetar. Rupanya satu pesan singkat.

".. aku dah dapat kaos-nya. lim-ed, bagus, cocok buat kamu. tadinya sih ada yg model lain. Tp gambarnya sudah familiar. Ntar dikira gak original. Tau dong, di Indo khan banyak tiruannya?"

 

Aku tertawa lebar. Tergelak. Terpingkal.

 

 

dedicated to :
para pekerja seni
yang jujur dalam berkreasi
serta
para pembaca blog ini
yg setia mengunjungi

 

n BIG thx to :
Hanny, Liez, Revti, Renny, Bonkopi, Aiz
for ur concern n support! :)

 


Celoteh Tusuk Gigi, pada pukul 4:47:38 pm ~ Komentar (8) karib Tusuk Gigi  



Next Page