Ransel di punggungku pun ikut terguncang saat gerak langkahku bertambah kencang, mencoba lincah menyelinap di sela orang-orang yang berlalu lalang. Kalau saja sedari tadi aku tidak mengabaikan panggilan pertama, barangkali aku tidak perlu tergesa seperti ini.
"Maaf, maaf.. permisi, saya ketinggalan pesawat!" aku coba mematahkan garis antrian dengan mengacungkan boarding-pass ke petugas. Beberapa orang menoleh. Ada yang tampak tidak senang. Ah, peduli amat! batinku. Dengan gegas aku menyambar tas ransel saat keluar dari pintu detektor dan kembali berlari di koridor.
"Jogja, mas?" sapa seorang petugas. Aku hanya menjawab dengan anggukan lantaran sulit menata nafas. Dari pembicaraan dua arah yang dilakukannya di pemancar radio, dapat kusimpulkan bahwa penumpang terakhir yang ditunggu hanya tinggal aku. Aku mempercepat lagi ayunan langkah.
Bunyi dengung dan udara dingin imitasi menyambutku sama ramahnya dengan kedua pramugari di pintu kabin. Aku mengangguk, tersenyum dengan raut wajah memohon maaf. Mereka membalas dengan senyum pula. Hmm, inilah salah satu alasan aku menyukai maskapai ini. Atau, mungkin saja karena kebetulan aku penumpang kelas bisnis? Bisa jadi begitu. Bila saja yang menjadi pemicu keterlambatan adalah aku seorang penumpang kelas ekonomi, tentu yang kuterima bukan saja amarah tapi juga sumpah serapah.
"Terimakasih," sahutku sembari mengambil segelas orange juice yang ditawarkan. Setidaknya cukup untuk memupus dahaga yang tercipta saat tadi berlarian. Aku mengenakan sabuk pengaman dan merebahkan badan. Aku menghela nafas panjang, degup jantungku mulai kembali normal. Hmm, sepertinya ini bisa menjadi saat yang tepat untuk melanjutkan tidurku yang tidak cukup waktu tadi malam, batinku.
"Ada acara apa di Jogja, dik?" sapa seorang bapak di sebelahku. Aku menoleh asal suara. Duh, baru saja ingin istirahat, pak! protesku dalam hati.
"Tidak ada acara apa-apa, pak. Cuma mau main aja ke Jogja," sahutku. Wah, sok akrab sekali bapak ini, tiba-tiba saja menyapa dengan pertanyaan ada acara apa? Bapak yang aneh, batinku.
"Oo, saya kira ada acara. Karena sering saya lihat adik dengan rombongan. Tumben, tidak bareng si mas," ujarnya. Ia menekankan pada kata 'mas'.
Aku mengerti. Rupanya ia kerap melihatku bepergian dengan Sang Pedendang dalam urusan show di luar kota. Itulah mengapa dia mencoba menebak apakah ada acara tertentu di kota yang aku kunjungi. Tentu saja semua itu akhirnya malah menjadi pemicu obrolan yang panjang dan lebar, dan aku tidak cukup tangkas untuk mengelak dari itu, sejak pesawat lepas landas hingga mengudara duapuluh menit yang lalu.
…
Bapak itu tersedak saat mendengar jawabanku. Ia buru-buru meminum teh hangatnya.
"Jadi, adik belum menikah?" tanyanya. Tatapan matanya tampak meragukan jawabanku. Aku menggeleng. Cukup kuat. Hingga beberapa helai poni rambutku menyapu kelopak mata.
"Tapi sudah ada calon?" tanyanya lagi. Entah mengapa, dengan mudahnya aku berkisah. Tentang seorang perempuan sempurna, yang menyembuhkan lukaku dan mampu kembali menghangatkan tungku semangat hidupku sejak awal tahun ini. Hanya saja karena lahan pekerjaan yang berbeda dunia membuat kami harus berjuang mempertahankan hubungan pada kualitas dan bukan semata pada kuantitas pertemuan.
"Jadi, karena kebetulan dia sedang tidak ada flight schedule dan sedang ingin main-main ke Jogja, makanya saya menyusul dia.. yah, belum tentu terjadi setahun sekali, pak. Sama-sama punya waktu untuk menikmati magisnya kota Jogja bersama orang tercinta," ujarku mencoba berkelakar di ujung cerita.
"Nah, kalau begitu menurut adik, sebenarnya tadi berlari-lari untuk mengejar pesawat atau mengejar waktu?" tanyanya tiba-tiba. Aku menatapnya aneh. Mengapa pembicaraan ini seperti tak lagi menemukan alurnya? batinku.
"Ya dua-duanya pak.. mengejar pesawat biar tidak ketinggalan waktu, dan mengejar waktu biar tidak ketinggalan pesawat," jawabku sekenanya.
Bapak itu tersenyum dan menggeleng. Lantas berkisahlah ia tentang betapa selama ini ia ternyata tak selalu mampu menaklukkan waktu. Sejak muda, ia adalah seorang yang selalu berupaya menjunjung disiplin dalam hal waktu. Selalu menepati waktu, menghargai waktu. Ia pun kerap memperkecil rentang jarak waktu bila itu dirasa cukup perlu. Kalau satu hal bisa dilakukan secara singkat, mengapa harus lambat-lambat? prinsipnya. Ia cukup singkat pula menyelesaikan masa studi hingga di jenjang pendidikan yang memberinya gelar doktor.
"Wow.. tapi apa ini berarti bapak tidak percaya adanya proses?" tukasku. Aku bertanya demikian lantaran ada pula sebagian orang yang beranggapan bahwa tidak semua terjadi atau bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Seperti halnya hubungan percintaan atau bahkan menanak nasi misalnya.
"Itu juga saya percaya.. dan masuk akal karena tidak semua bisa dilakukan secara singkat. Tapi pernahkah adik mencoba mendahului waktu? misalnya datang lebih dulu ketika berjanji bertemu di satu tempat?" tanyanya lagi. Aku mengerutkan dahi.
"Pada saat itu kita hanya seolah sedang mendahului waktu, namun sebenarnya kita tidak pernah bisa untuk selalu mengejar waktu," sambungnya tanpa menunggu jawaban lugas dariku.
"Waktu terus berputar. Bila kita hanya diam, maka jarak antara kita dan sang waktu akan menjauh. Dan tidak setiap orang, saya ataupun adik, bisa selalu mengejar waktu yang sudah berlalu di depan kita," tambahnya.
Mataku membulat lebar, mencoba mencerna guliran kata-kata yang baru saja diucapkannya.
Ada pikiran di benak yang membuatku tergugah, tentang betapa jauh sudah dalam hidup kumenghela langkah. Hanya berpijak pada daun kering dan mengikuti ke arah mana air mengalir. Sementara waktu demi waktu terus berlalu menumpukkan lembarannya. Mentari pagi datang menghampiri dan gemintang malam menyusup pergi. Setiap hari dengan gegas mengganti esok menjadi kemarin, dan tak selalu kusadari.
…
"Mari, pak.." aku berpamitan dengan si bapak yang masih sibuk menanti barang di bagasi.
"Oya, silahkan dik.." sahutnya. Tangannya menggenggam hangat menyambut uluran tanganku. Hmm, betapa sebuah obrolan yang mencerahkan, batinku.
Langkahku yang berjalan menuju pintu keluar, terhenti sesaat. Seorang gadis tersenyum menatapku dari kejauhan. Aku terpana dan membatin, ternyata seorang perempuan tidak harus selalu memiliki sayap untuk disebut : bidadari!
"Hai, mas.." sapanya saat aku menghampiri dirinya. Tangannya melingkar di pundakku. Aku menggamit pinggang dan mengecup keningnya. Gemintang matanya terpancar indah, ada rindu terbaca di sana.
"Thanks ya, udah jemput aku.. by the way, kita langsung jalan aja yuk? aku lapar nih, belum sempat makan siang tadi," cecarku.
"Mm.. bentar ya mas, tadi kata mamaku, pakde aku yang di Jogja juga kebetulan baru pulang dari Jakarta. Atau jangan-jangan tadi satu pesawat ya?" tanyanya.
"Oh ya? Ya sudah, coba kita tunggu aja di sini," jawabku sambil menurunkan ransel dari punggung. Aku merunduk membuka restlueting tas untuk mengambil ponsel lain yang belum sempat kunyalakan.
"Eh Mas, mas.. itu tuh pakdeku!" tangannya menggapai pundakku. Aku bangkit dan terpana menatap sosok seorang bapak di kejauhan dengan koper besar di tangan kanan.
Lho, itu khan bapak yang tadi?
buat D, love Jogja n u.. :)
kagem pakde Widjo, matur nuwun nggih..